Istri saya mengirimkan pesan di Whatsapp, katanya : “tarif indiehome naik, padahal masih Desember, kan belum ganti tahun” pesan itu Ia kirim dengan menyematkan tangkapan layar dari aplikasi tagihan indiehome.
Jelang akhir bulan, memang kegiatan bayar membayar adalah rutinitasnya. Bayar listrik, KPR Rumah, Air, juga gaji karyawan di tempat usaha kecil kami. Saya memastikan kepalanya pusing tujuh keliling melihat nilai tagihan-tagihan itu.
Kenaikan tarif langganan provider internet itu sesungguhnya sudah kami tahu informasinya, Pajak Pertambahan Nilai 12% telah ketuk palu dan bersamaan itu berseliweran postingan tentang barang-barang yang terkena pajak. dari postingan itu, barang kebutuhan harian tidak termasuk barang terkena pajak tapi pikirku itu cuman angin-anginan saja.
Menurut matematika
saya yang lemah, ilustrasi PPN 12% itu jika diceritakan seperti beli taripa dan
onde-onde di kedai kue dekat stadion Betoambari, sebelumnya 5 ribu rupiah masih
dapat 5 biji, kelak dapat 3 atau 4 biji saja. Nah, itu baru mau beli kue,
bagaimana kalau mau beli Jet pribadi?
Nah, kalau
sudah begini apa yang mesti kita lakukan?
Hidup hemat alias frugal
living bukan satu-satunya cara untuk menanggapi PPN 12%, namun langkah itu efektif
bagi kaum mendang-mending seperti saya. Pengelolaan kebutuhan didudukkan kembali,
menempatkan kebutuhan primer di atas kursi kepentingan lainnya, utamanya kebutuhan
tersier.
Barang-barang yang bertumpuk di keranjang Shopee perlu dipikirkan kembali untuk dicheck out. harga barang di keranjang itu barangkali receh tapi kali banyak ditambah ongkos kirim ke Baubau yang banyak dikeluhkan warganya. lalu, jajan yang berkedok wisata kuliner dikurangi intensitasnya, terkadang perut kita sudah cukup menampung makanan di rumah, cuman mata kita tidak bisa kenyang melihat godaan content creator meng-endorse makanan dan minuman menjadi FYP di tiktok kita.
Di sisi lain, gaya hidup hemat sebenarnya berdampak buruk juga pada ekonomi daerah, UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah pasti encok, uang yang beredar di pasar terseok-seok. Pada akhirnya, masyakat tidak memaknai pepatah hemat adalah pangkal untuk menjadi kaya lagi.
0 komentar:
Posting Komentar