Senin, 16 Desember 2024

Kasoami (Soami), bekal melaut dari seorang istri di Buton

katanya, Orang Buton belum MAKAN, kalau belum makan Kasoami 

Berada jauh dari kampung halaman nun jauh di sana tentunya memunculkan seribu rasa rindu pada apa pun yang hidup di sana, mungkin keluarga, sanak saudara, juga tentu makanan khasnya. Khusus untuk yang saya sebutkan di akhir, saya akan coba mengulasnya beberapa pengalaman tentang makanan khas orang Buton khususnya orang Pulo (wakatobi), Kasoami.

Kasoami adalah makanan pokok yang dulunya merupakan pangan utama. Bahan dasar untuk membuat kasoami adalah ketela atau ubi kayu yang diparut sedemikian rupa sampai hancur berbentuk bubuk kasar lantas bubuk-bubuk kemudian itu dimasukkan ke cetakan berbahan anyaman daun kelapa yang bentuknya seperti kerucut, disebut kasoami karena sistem pengolahannya yang menggunakan sistem uap panas. dalam bahasa Pulo, panas itu bermakna Soa sehingga orang Pulo menyebut pangan olahan itu dengan nama Kasoami.

·    Ubi kayu/singkong diparut sampai habis kandungan airnya, kemudian diperas menggunakan kain berwarna putih. Hasil parutan ubi kayu itu disebut kaopi

·      Kaopi dimasukan kedalam cetakan yang dianyam dari daun Nyiur berbentuk tumpeng, cetakan itu disebut soamia.

·        Cetakan berisi kaopi dikukus ke dalam gerabah, gerabah itu disebut poluka tana.

Kasoami menjadi pangan utama karena bahan dasarnya hanya bisa tumbuh kembang di sana, apalagi di daerah Pulo yang sebagian besar daratannya adalah atol, pulau karang yang mengelilingi sebagian laguna. Mereka menyebut ubi kayu (ketela) dengan sebutan kasitela, kata ini konon berhubungan dengan bangsa yang menyebarkan tanaman ini, orang-orang Castela di Spanyol. Sekitar Abad 16, Kasitela ini disebarkan oleh para pelayar Portugis di Maluku kemudian tersebar ke seluruh wilayah Nusantara.

Orang Buton dahulu sangat lihai dalam berpetualang di laut, hamparan samudera di halaman rumah panggung mereka adalah ladang untuk tetap bertahan hidup. Waktu yang dibutuhkan ketika melaut tidak singkat, istri mereka di rumah menyiapkan kasoami sebagai bekal karena masa pemyimpanan layak konsumsinya cukup lama. Jika musim timur datang, ombak sangat besar. Di masa-masa itu para suami tidak melaut namun di meja makan kasoami tetap ada bersama ngkari-ngkari dan kagarai (ikan kering).

Kasoami ini tidak mudah basi/rusak. Penyimpanannya masih aman dimakan sampai jangka waktu kurang lebih 14 hari di suhu ruang, kalau masih berbentuk kaopi masa penyimpanannya lebih lama lagi bisa sampai sebulan.

Di medio tahun 2000-an, sewaktu masih berkuliah di Makassar, saya acapkali membawa kasoami sebagai lamboko (kiriman) untuk teman-teman yang berasal dari Pulo. Mereka bilang, mending jangan kembali kalau tidak bawa kasoami, terasa begitu istimewanya kasoami.

Bagiamana di era sekarang? Ya, memang Kasoami masih bisa ditemukan tapi tidak mudah. Jumlah produsen dan konsumen memiliki segmen tersendiri, rata-rata mereka adalah generasi Baby Boomer dan generasi X. Kasoami yang dulunya pangan utama, kini menjadi second choice atau pelengkap di meja makan, perannya digantikan oleh beras (Nasi). Nasi muncul sejak masuknya Belanda, penjajahan Belanda di Nusantara tampaknya bukan hanya menjajah daerah, tapi juga menjajah  dan menyeragamkan makanan pokok di meja makan kita.

Sesungguhnya makanan tradisional adalah hasil kerja-kerja kebudayaan, leluhur kita pandai bereaksi sekaligus berkreasi terhadap apa yang tumbuh di sekitarnya, mereka mampu mengolah pangan agar nutrisi yang masuk ke tubuh tidak seragam, mengawetkan bahan makanan agar tetap aman dikonsumsi dan kerja-kerja mereka di waktu itu menjadi pengetahuan lokal yang berharga bagi generasi mendatang,  tentu kehilangan kasoami  sama dengan memutuskan lidah kita dengan lidah leluhur.



0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

'1998'

Foto ini digambar oleh anak saya yang berusia enam setengah. cerita  sebelum gambar ini jadi, ia tampak bosan menunggu di lobi sebuah bank l...

Followers