katanya, Orang Buton belum MAKAN, kalau belum makan Kasoami
Berada jauh dari kampung halaman
nun jauh di sana tentunya memunculkan seribu rasa rindu pada apa pun yang hidup
di sana, mungkin keluarga, sanak saudara, juga tentu makanan khasnya. Khusus
untuk yang saya sebutkan di akhir, saya akan coba mengulasnya beberapa
pengalaman tentang makanan khas orang Buton khususnya orang Pulo (wakatobi), Kasoami.
Kasoami adalah makanan pokok yang
dulunya merupakan pangan utama. Bahan dasar untuk membuat kasoami adalah ketela
atau ubi kayu yang diparut sedemikian rupa sampai hancur berbentuk bubuk kasar
lantas bubuk-bubuk kemudian itu dimasukkan ke cetakan berbahan anyaman daun
kelapa yang bentuknya seperti kerucut, disebut kasoami karena sistem
pengolahannya yang menggunakan sistem uap panas. dalam bahasa Pulo, panas itu bermakna Soa sehingga orang Pulo menyebut pangan olahan itu dengan nama Kasoami.
· Ubi kayu/singkong diparut sampai habis kandungan airnya, kemudian diperas
menggunakan kain berwarna putih. Hasil parutan ubi kayu itu disebut kaopi
· Kaopi
dimasukan kedalam cetakan yang dianyam dari daun Nyiur berbentuk tumpeng,
cetakan itu disebut soamia.
·
Cetakan berisi kaopi dikukus ke dalam gerabah, gerabah itu disebut poluka
tana.
Kasoami menjadi pangan utama
karena bahan dasarnya hanya bisa tumbuh kembang di sana, apalagi di daerah Pulo
yang sebagian besar daratannya adalah atol, pulau karang yang mengelilingi
sebagian laguna. Mereka menyebut ubi kayu (ketela) dengan sebutan kasitela,
kata ini konon berhubungan dengan bangsa yang menyebarkan tanaman ini,
orang-orang Castela di Spanyol. Sekitar Abad 16, Kasitela ini
disebarkan oleh para pelayar Portugis di Maluku kemudian tersebar ke seluruh
wilayah Nusantara.
Orang Buton dahulu sangat lihai
dalam berpetualang di laut, hamparan samudera di halaman rumah panggung mereka
adalah ladang untuk tetap bertahan hidup. Waktu yang dibutuhkan ketika melaut
tidak singkat, istri mereka di rumah menyiapkan kasoami sebagai bekal
karena masa pemyimpanan layak konsumsinya cukup lama. Jika musim timur datang, ombak sangat besar. Di
masa-masa itu para suami tidak melaut namun di meja makan kasoami tetap
ada bersama ngkari-ngkari dan kagarai (ikan kering).
Kasoami ini tidak mudah
basi/rusak. Penyimpanannya masih aman dimakan sampai jangka waktu kurang lebih
14 hari di suhu ruang, kalau masih berbentuk kaopi masa penyimpanannya
lebih lama lagi bisa sampai sebulan.
Di medio tahun 2000-an, sewaktu
masih berkuliah di Makassar, saya acapkali membawa kasoami sebagai lamboko
(kiriman) untuk teman-teman yang berasal dari Pulo. Mereka bilang,
mending jangan kembali kalau tidak bawa kasoami, terasa begitu istimewanya
kasoami.
Bagiamana di era sekarang? Ya,
memang Kasoami masih bisa ditemukan tapi tidak mudah. Jumlah produsen dan
konsumen memiliki segmen tersendiri, rata-rata mereka adalah generasi Baby Boomer dan generasi X. Kasoami yang dulunya pangan utama,
kini menjadi second choice atau pelengkap di meja makan, perannya
digantikan oleh beras (Nasi). Nasi muncul sejak masuknya Belanda, penjajahan
Belanda di Nusantara tampaknya bukan hanya menjajah daerah, tapi juga menjajah dan menyeragamkan makanan pokok di meja makan kita.
Sesungguhnya makanan tradisional
adalah hasil kerja-kerja kebudayaan, leluhur kita pandai bereaksi sekaligus berkreasi terhadap apa yang tumbuh di sekitarnya, mereka mampu mengolah pangan agar nutrisi yang masuk ke tubuh tidak seragam, mengawetkan bahan makanan agar tetap aman dikonsumsi dan kerja-kerja mereka di waktu itu menjadi pengetahuan lokal yang berharga bagi generasi mendatang, tentu kehilangan kasoami sama dengan memutuskan lidah kita dengan
lidah leluhur.
0 komentar:
Posting Komentar