Rabu, 31 Maret 2010

Kamar saya bernama belukar

kamar memojokanku dengan begitu bencinya, ini adalah hari ke 2 setelah saya bertafakkur di dalamnya dengan sedikit doa untuk esok lusa serta menanti derap langkah yang hendak menemuiku. Dari pagi seperti sepi, atmosfer ini memang sering menunggu kedatanganku di tempat ini, saya merasa lebih leluasa dalam berujar sembarang kata atau memburu pikiran-pikiran liar di luar sana walau di antara sepi namun tak terhitung objek-objek hangat yang menepi, mereka bukanlah secangkir kopi.

Kamar menyimpan ribuan kepingan kehidupan, kamar ini menemaniku sejak beranjak usiaku kira-kira di angka 13, tempat ini sudah bertutur mimpi-mimpiku yang buruk dan mencambuk, disinipun mimpi basahku melembab juga tempat dimana aku disekap oleh bapakku sebagai deraan akibat mencuri uang di warung buat sewa bermain play station, tempat mengisap rokok yang aman agar tidak ketahuan, tempat mengumpat teman-teman SMA, tempat lahirnya JAGAD sekaligus sekretariatnya, atau yang melankolis, tempatnya rindu mengalir ke muara yang berantah.

Ku delik setiap sisinya Sampai wajahku tertodong kaca, ku lihat secermat mungkin bagian mana yang rawan membuat kesan orang-orang, saya lebih menyukai mata di bandingkan bibir yang slalu miring ketika berbicara, evaluasi diri ini mesti sering di kaji, saya tak mau tampak lusuh lagi. Wah... kamar ini harus terus rapat terkunci sebab sejuta rahasia tersembunyi di dalamnya.

Jumat, 12 Maret 2010

Mahasiswa kehilangan satu nyawa

Pemandangan di Televisi hari ini penuh dengan kemirisan, sumber itu berasal dari aksi-aksi mahasiswa makassar yang semakin hari kian menjadi-jadi. Kesimpulan ini saya petik dari adegan-adegan yang terjadi di tengah suasana demonstrasi yang berujung pada kericuhan, bisa-bisanya masyarakat yang semestinya harus menjadi kawan main tapi hari ini menjadi lawan tanding dari mahasiswa. UNM adalah kampus kedua yang konflik dimana di aktori oleh mahasiswa versus masyarakat setelah kemarin pertama kali pecah di UIN Alaudin Makassar.

Kronologis dari rentetan insiden ini sama-sama di mulai dengan aksi demonstrasi dengan isu yang serupa pula yaitu reaksi dari peristiwa pasca penyerangan Wisma HMI cabang Makassar di jalan bontolempangan. Mahasiswa menuntut kepada pihak kepolisian agar menindak para pelaku penyerangan yang setelah di usut mereka adalah anggota kepolisian dan aksi itu berbuntut pada pengrusakan fasilitas kepolisian berupa pos jaga dan pemblokiran jalan oleh mahasiswa di sekitar ruas-ruas perempatan alauddin namun tindakan pemblokiran ini tidak di senangi oleh masyarakat setempat, mereka merasa di rugikan oleh ulah mahasiswa yang memblokir jalan dengan alasan menghambat perekonomian warga setempat yang rata-rata sebagai supir pete-pete, abang becak, dan penjual di sekitar TKP dan aksi lempar batupun tak bisa terlelak lagi dan hari ini kejadian yang sama terjadi kembali di kampus orange, gunung sari. Mahasiswa VS masyarakat, 2 hari di arena merdeka.

Yang mesti di garis bawahi di kedua insiden ini adalah sikap polisi yang tak nampak sebagai pengayom masyarakat, nampak jelas para seragam coklat ini seperti membiarkan pertempuran batu itu terjadi, mereka acuh dengan sekelilingnya dan pura-pura bertindak setelah korban berjatuhan di kedua kubu atau jangan-jangan, polisi memang sengaja membuat kebencian di mata masyarakat pada sosok mahasiswa yang merupakan “musuh abadi” institusi POLRI itu,hmmm... sejatinya, mahasiswa takkan berhenti berteriak bila masih mengendus segala nafas ketidakadilan, kesewenang-wenangan, atau bentuk-bentuk lainnya yang tak berpihak kepada rakyat.

Masyarakat...... Mahasiswa tetap maju bersamamu, lebih dekat di sampingmu.

Menjadi "Ibu" bahkan "Tuhan" sekalipun


Alamat untuk hinggap di kasur empuk belum bisa saya kirimkan, sebab di luar jendela masih bertempur serdadu hujan yang menggempur sekeliling kamar saya, sangat sengit mereka bertalu. dan juga memang saat itu belum juga ada sugesti dari kantuk atau gelagat-gelagat lain yang mengajakku untuk sebentar bermain-main di singgasana mimpi.

Sementara di dalam kamar, saya serasa menerobos di luar batas frekuensi kesadaran. Tepatnya, ingin menjadi “ibu” dari sesuatu bahkan “Tuhan” sekalipun. Cita-cita aneh yang dipacu oleh teks-teks yang kebetulan saat itu lewat di depan mata dan baunya tercium lantas tercerna oleh sepasang kuping saya. Ini memang adalah salah satu risalah yang saya tanam dalam-dalam (Fenoisme). Nantilah kita bercerita tentang Fenoisme. sekarang, saya mesti merenangi renung lagi bahkan menyelaminya sampai ke titik akhir pertemuan saya dengan malam ini.

Teks-Teks itu berupa nyala lampu pijar,aroma piring-piring kotor, dan gelegar petir yang tak mengingkari janjinya pada bumi. Mereka seakan-akan menyeret tangan saya untuk mengikatnya rapi menjadi sebuah pesan esok pagi.
Thomas Alfa Edisson pasti mengangguk jika saya menanyakan tentang Lampu pijar yang dia temukan berawal dari rasa yang bernama kegelisahan. begitu juga dengan sang penangkap petir, Benjamin franklin, beradu nyali dengan menggantungkan kunci besi pada benang layang-layang di tengah deras hujan dan riuhnya kilat. Keduanya berangkat dari rasa keingin tahuan pada misteri di alam semesta sehingga sekarang mereka layak terhormat di mata kita.

Barangkali, saat ini saya harus memulainya dengan rasa gelisah juga, di mulai dengan menternak ide-ide bau piring kotor itu lantas di jewantahkan ke dalam beberapa kalimat. Entah kalimat itu berjenis narasi,puisi, ataupun petisi atau keluar dari kamar untuk mencuci piring kotor itu satu persatu sampai baunya tak berjejak lagi.

Ini satu langkah untuk menjadi seorang "ibu" dari catatan-catatan bahkan "Tuhan" sekalipun.

Teruslah bergelisah …

Kado itu bernama Desa Kala Patra




Pertengahan 2009 silam merupakan lembar baru yang berisi sejuta kesan di bundel sejarah kehidupan saya. Pada waktu itu, saya adalah salah satu dari anggota team delegasi kampus Universitas Muslim Indonesia yang mengatas namakan Teater Tangan UPKSBS UMI dalam mengikuti perhelatan akbar teater nasional Temu Teman VII ( temu teater mahasiswa nusantara 7) dimana terselenggara di Singaraja, Bali. Acara ini adalah kegiatan tahunan yang telah di ikuti oleh seluruh pekerja seni kampus (PSK) se-nusantara. namun, saya baru saja mengikuti 2 kali sepanjang perhelatannya yaitu di temu teman VI Surabaya dan kini, Bali.

Yang bikin mengesankan adalah terbitnya Buku yang berjudul “desa kala patra”, buku yang di publikasikan oleh Sastra Welang ini adalah kumpulan naskah teater yang juga merupakan karya sastra yang sangat luar biasa menurut saya, sebab sangat jarang kita temukan di manapun, alasanya buku antologi naskah belum bisa bersaing dengan karya sastra lainnya sebut saja seperti puisi atau prosa dalam penerbitannya . Dalam buku yang tebalnya 162 halaman ini terdapat naskah yang saya buat, judulnya adalah “INDOOR” berkisah tentang deskripsi Indonesia dalam dua sisi yang berlawanan, sisi yang satu melukiskan keramahan atau kedamaian sedang yang satunya lagi memperlihatkan kemarahan atau ke-mandeg-an. Teater ini termasuk dalam jenis teater eksperimental di mana dalam pengungkapan teksnya, tubuh yang menjadi media atau bahasanya. Pemain dalam lakon ini berjumlah 5 orang dan 4 adegan dan Kebetulan pada saat itu saya juga merangkap sebagai sutradara.

ini merupan kado yang membanggakan bagi saya pribadi dan juga sebuah persembahan dari saya buat teman-teman UKM seni UMI yang terus menjadi tombak dalam proses pencarian gekstur di rimba pengetahuan.

Besar dengan Karya … ( kata itu slalu membisikku sebelum dan seusai bergelisah)

Antara Saya dan “Sang Pemimpi”



Sebelum meraba-raba tulisan ini, entah… tersentak wajah saya langsung mengayam senyum. Alasannya secara pribadi memang sangat lucu namun entah mungkin pembaca menilai ini adalah hal yang biasa-biasa saja.

Adalah tepatnya 2 Januari kemarin, malam itu cuaca agak mengecewakan sebab hujan turun sangat malu-malu. Dengan baju yang lembab tanpa memedulikannya, saya memasuki sebuah mall di kawasan Jl. Perintis Kemerdekaan bersama seorang teman, saya kerap menyapa Orge kepadaya. Tujuan kami ke tempat itu bukan utnuk membeli pakaian atau pernak-pernik life style yang sering orang-orang kekinian lakukan melainkan untuk menyaksikan pertunjukkan film yang di adaptasi dari novel “Laskar Pelangi“ ke 2 milik Andrea Hirata, “Sang Pemimpi”. Film ini adalah film yang sangat luar biasa dan pasi tak bisa terhapus di lembar-lembar memori yang saya punya. Bukan karena unsur instrinsik atau ekstrinsik film ini yang memang sungguh memukau melainkan Untuk pertama kalinya saya menyaksikan megahnya layar pertunjukan di bioskop 21. Inilah yang menjadi objek atau alasan dari sebab wajah saya menyajikan senyum di awal tulisan ini.

kursi 9 deretan C adalah tempat duduk saya, dari situlah saya menyaksikan satu persatu adegan Ikal, Arai dan Jimbron dalam menyimpul persahabatan dan memeluk mimpi-mimpi mereka. Film ini sangat inspiratif dan edukatif. Banyak sekali kepingan-kepingan kisah yang mesti kita jadikan bahan kontemplasi untuk masa depan. film itu berdurasi kurang lebih 128 menit, dan tepat pukul 22.38 kami meninggalkan ruangan pertunjukkan untuk segera pulang ke rumah, di luar hujan masih bernafas namun saya langsung berkata kepada Orge “tak soal sederas apapun hujan itu, namun sejauh mana upayamu unuk pulang ke rumahmu” ( mengutip kata-kata inspiratif di film sang pemimpi tadi,hehehe… )

Roman Bawah Kubah


di tiap harinya,saya selalu menyempatkan waktu buat tempat ini. tapi bukan untuk melaksanakan kewajiban saya sebagai muslim ( kadang-kadang, sih kalau ustadz di situ menyerukan agar segera ke atas...hehehe).

tepatnya di bawah kubah (bukan di masjid), ada sebuah ruangan seperti gua hira (red.kaka Bram) di situlah istana cadangan saya dalam bernaung di pengembaraan hidup ini (kontradktifnya)atau kami namakan laboratorium seni. ruangan ini cukup memadai untuk berteriak, bergerilya atau ber-apa saja.

mengapa di sebut sebagai laboratorium seni, jawabannya ada di topik diskusi pada grup UPKSBS UMI. di sana ibarat surga firdaus tetapi kadang-kadang berubah menjelma markas monster seperti di program TV Anak-anak. pada waktu-waktu tertentu akan datang para malaikat di tiap-tiap gerbangnya dan menuangkan sedikit nurul di hati penghuninya, waktu-waktu itu adalah pukul 12.05 dan 15.37. bagi siapa saja yang menangkap cahaya dari malaikat itu, maka surgalah baginya dan bagi yang sengaja pura-pura tidur atau bersembunyi di balik pilar-pilar setan maka nerakalah baginya( ini bukan ayat, ini kenyataan ).

beberapa hari lalu, tempat ini menjadi venew dari pagelaran seni akhir tahun "ROMAN BAWAH KUBAH" yang menyajikan beberapa karya fenomenal dari teman-teman UKM seni UMI, pada acara itu saya bertindak sebagai Kurator dan Salah satu Personil ROMAN Accoustic yang mengisi pertunjukan seni akhir tahun itu.
pertunjukan teater,puisi,tari,Musik dan Gallery fotografi dan Rupa menjadi daftar menu pagelaran itu.

namun, kami baru saja mendapatkan sepucuk kabar dari pemilik Masjid itu yang berbunyi Laboratorium Seni akan segera di pindahkan ke tempat yang kami juga tidak tahu dimana. kalaupun Pindah, kami rela asal tempat yang baru itu kami lihat layak sebagai belantara bukan petak-petak petaka.

Bawah Kubah yang mungkin menjadi kenangan seperti Negeri 4 kali 4 dahulu...

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

'1998'

Foto ini digambar oleh anak saya yang berusia enam setengah. cerita  sebelum gambar ini jadi, ia tampak bosan menunggu di lobi sebuah bank l...

Followers