Senin, 17 Mei 2010

Minggu, 16 Mei 2010

pintuku menunggu sedikit pintamu

ku menunggumu di pintu yang tak terkunci,
pintu yang sengaja ku buat biar bisa ku hitung jejak langkahmu berdenyut
dan ketika rinduku sudah terlantar, aku berusaha memungutnya satu persatu dan tak ku sisakan agar tak dijilat lidah anjing-anjing malam.
seusai tenang, pintu itu kembali ku tutup rapat.

aku baru saja menunggumu di pintu itu lagi, di pintu yang berwarna sama.
hari itu sedikit berlari
sampai hujan tak berani mengejar dan menitipkan kamu ke depan mataku,
mata itu tak berani melukis tatapmu
aku lupa cara angin membelai para ilalang di sabana senja,
tak ingat dengan kecupan ombak di karang-karang tua,

terlalu lekas kau menyuguhkan matanya, hujan
aku masih kehilangan kunci pintuku
sementara secangkir teh dan sekuntum melati menunggunya di balik pintu...

Minggu, 02 Mei 2010

Alang-Alang Indah di tengah Rimba Alangkah Lucunya (negri ini)




Beberapa hari yang lalu, saya telah berkenalan dengan “Alangkah Lucunya negeriku ini” di salah satu bioskop di kawasan Tamalanrea, sebuah film garapan Deddy Mizwar yang ramah memotret sebuah kisah kehidupan jalanan yaitu para pencopet dengan berbagai tingkah polahnya sekaligus tajam mengupas problematika dalam kehidupan berbangsa. Film hasil kolaborasinya dengan penulis Musfar Yasin ini juga bisa diteropong dengan banyak kacamata: ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kriminalitas, generasi muda, dan agama. Isu pengangguran, kekerasan, dan semangat materialism juga sempat tersentuh.

Sebelumnya, saya sempat penasaran dengan film ini sebab untuk pembuatannya saja, Deddy Mizwar harus membutuhkan kurang lebih 9 tahun dalam menyelesaikan segalanya. Apalagi ketika saya membaca reserensinya di sebuah majalah yang menyebutkan aktor yang terlibat dlam ALNI 70 % adalah anak jalanan, rasa penasaran saya semakin terlantar.

Setelah duduk dan menyaksikan adegan-adegannya dari Seat 12 Row A, saya tersadar baru saja menengok Muluk dan kawan-kawannya yang luar biasa bisa mengubah para pencopet cilik untuk tidak lagi mencopet dan hijrah ke usaha yang halal dengan cara yang “revolusioner”, sehingga para pencopet cilik itu bisa pintar, hafal dua kalimat syahadat, hafal Pancasila dan juga bisa sholat dan mengaji dan dalam perjalanannya saya menemukan “halal “ dan “haram” di seterukan yang bersumber pada 10 % hasil dari copet untuk diputar dan ditabung oleh muluk dkk dan ibu dari Pipit yang tidak punya pekerjaan selain mengisi TTS dan game watch menjawabnya dalam adegannya yang sedang mengisi TTS dan menanyakan kepada Sang Suami tentang “halal dan “haram” itu siapa yang menentukan? Bukan MUI, bukan juga Saya melainkan Allah SWT. ini adalah kepingan dari semangat religius dari ALNI. Saya juga menengok beberapa fragmen dari ALNI yang mungkin merupakan tema khususnya dimana problematika kemiskinan yang salah satunya di tukangi oleh tindakan korupsi, alangkah sulitnya kehidupan anak-anak itu untuk menyambung nafas mereka dengan jalan mencopet dan yang ironisnya dicopet pula hak-hak mereka oleh koruptor yang jauh lebih berpendidikan dan lantas terdengar suara satir dari Muluk kepada Syamsul yang menyesal telah menjalani proses pendidikan yaitu : “Pendidikan itu penting. Karena berpendidikan, maka kita tahu bahwa pendidikan itu tidak penting!”

Dan yang paling meletupkan sanubariku, di kala pencopet yang tengah mengadakan upacara bendera. Begitu lagu kebangsaan Indonesia Raya berhenti, “Hiduplah Indonesia Raya”…tiba-tiba yang paling kecil menyeletuk:”Amin!”, sembari menggerakkan tangannya mengusap wajah, layaknya berdoa.

Kurang lebih 115 Menit saya berbincang-bincang tanpa kata dengan ALNI, namun pertemuan ini bagiku terlalu banyak menyimpan kata apalagi rasa...

“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, bunyi pasal 34 UUD 1945

Sabtu, 01 Mei 2010

Sajak-Sajak Jari

Setelah Ponselku Bernyanyi

Setelah ponselku bernyanyi,
Jari-jariku lincah menari-nari
Ini adalah salah satu tembang buat rindu yang terkebiri

Rupanya, Kau belum juga menulis rupamu
Pesan yang kau utus terlalu lugu untuk menunggu
Sementara kemarin
Kau memintaku untuk melaju
Berikan seinchi lagi,
Sapaan yang mungkin lupa kau titip
Sebab telah ku buat sahut dari sari pati pagi
Yang mengembun di daun-daun pelangi

Setelah ponselku bernyanyi,
Pesan itu mengajakku menepi pada sepi
Syairmu masih bukan puisi



Sajak-Sajak Jalan

I
Roda-roda terus menggilas nyanyian bocah
Para penjaja Koran-koran juga
Nan tak reda-reda merayu asap kendaraan kota
Buat jajan kami di jalan-jalan sekolah
Kata mereka di perempatan jalan milik kita

II
Lantangmu menantang,
Perubahan kerap kau teriakan
Seusai mencerna hidup kaum-kaum tersisihkan.
Kau Yang terlahir dari rahim pergerakan
Yang Kadang mati di sepanjang jalan perjuangan

III
Terima kasih untuk peluit yang tanpa malu-malu kau suarakan
Sehingga tak terjebak lagi nafasku dari sesaknya kemacetan
Walau Ku tahu semuanya adalah kewajiban yang mesti kau emban.
Lagi-lagi terima kasih ku gaungkan …

IV
Episode mimpi yang terus berlanjut di tiap-tiap gulungan roda, di halaman buku-buku, majalah, pekarangan, atau di segala wajah yang sempat menganyam kenangan ketika jalan menyajikan peristiwa.
Kisah klakson adalah tambahan dari pelayaran episode itu, bunyi yang kadang mengusik namun di rindukan oleh kehati-hatian.

( di segala pertemuan dengan tempat yang bernama jalan)





Abdi-Abdi Jalan

Sajak-Sajak Hujan

Kesaksian Hujan #1

belum juga ku ketahui harus menulismu dengan sebanyaka apa
polos yang kau kenakan di tiap sela kata-katamu masih membuat kesan
di seluruh kertasku...

namamu terlanjur berteduh di atas ini,
tepat sebelum petang melukis wajah hujan
di kotak-kotak kampus tua
tepat ketika hujan bertandang
pada pertemuannya dengan bumi yang ke-delapan
dan ku ajak waktu sejenak duduk mencicipi
aroma yang kau bawa dari bangku kuliah..

entah...
usai puisi ini terbangun,
kau belum pasti masih menderingkan ponsel merah hitam milikku
dan ku sahut ia dengan malu-malu...

kau sudah menjelma ibarat bagiku

( ketika ku raut wajahmu dengan tajam kata-kata )

Kesaksian Hujan #2

rindu hujan beradu,
hujan rindu bertalu,
terlalu deras mengepung kita...

rinainya menggaung kekal di tengah januari
pun mengawali tanda
untuk sejenak menyiapkan hadiah
untuk musim kita...

rindu dan hujan
terlalu keras mengetuk kita...

sekuat gunung yang berteriak
di tepi sepi..
seperti pestapora para peria
mencekik bunyi sunyi

lalu...
ku balut sepasang kupingmu
dengan pesan yang sempat di titipkan oleh
perasaan...


( kado jingga pada dialog musim hujan )

Kesaksian Hujan #3

Yang selalu menjadi saksi di persidangan kita,
Yang terlalu sukar pembicaraannya di takar.

kau harus kembali lagi menuduh musim ini yang membuat kemarau di nganga hatiku
pasca kau mengepungku di perjumpaan petang,
langit melemparkan halilintar tepat mendarat di sarang aksaraku
seketika, nada dan rasa berserakan di manamana
ada yang memeluk gunung,
mengusap ubun-ubun rembulan,
bercumbu dengan hembusan udara,

kali ini tak ada lagi menu rindu yang tersaji,
tak ada lagi pesan yang lupa di isyaratkan,
usahlah pamit dari kursi peraduanmu itu
sungguh… musim ini masih mengungkapkan kepura-puraan.

( waktu tak hanya bisa terus berlari, dia juga bisa jatuh sebelum melanjutkan perjalanannya )

Menghujat Hujan

ku undang ricik di senja ini buat menyulam nada yang sempat terputus, pelangiku girang menklukan garang terik berwajah siang dan laju menuangkan tembang ke nganga kembang bernama mawar, rasanya basah.
hanya beberapa yang kutulis, banyak tentang rintik rintih hujan, pelan barisku nyaris berjumlah genap tinggal mencari dimana rindu bersembunyi yang lainnya tersisa carita kering di lembar helai berair.

mengalir dimana rindu itu.

.mereka setengah deras tapi membekas di tubuh bumi.

Sajak-Sajak Udara

Ujarku di udaramu #1

aku singgah lagi di udaramu
untuk sejenak waktu

di laut banyak kalut menyulut
di darat banyak syarat menjerat
di api sangat baik-baik saja namun terlau bernyali,

untuk sejenak waktu,
aku meminta nafas di udaramu ...

( sesak desak berdesah )

Ujarku di udaramu #2

Hari sudah lupa dengan namanya di hembusan itu,
aku terlanjur memilih udara untuk menemuimu di janji kita yang kesekian kala, sayapsayap hebat berdebat di pertemuan itu hingga bulubulu menghalau mataku mengucapkan syair-syair air hujan yang teduh di jelang maret,

udara yang bersuara mesra...aku terlalu banyak meminjam gelisah, setelah kau setubuhi angin dan melahirkan senandung yang kau kandung, rautku menjelma mendung. Padang angkasa pelan menelan nafasmu ketika kabar itu sampai padanya namun tangannya hanya menangkap angin saja, kau lari dengan janjimu ke tenggara.

Kau adalah sisa sia-sia....

-udaramu terlalu cepat mengadiliku di hari yang terlupa-

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

'1998'

Foto ini digambar oleh anak saya yang berusia enam setengah. cerita  sebelum gambar ini jadi, ia tampak bosan menunggu di lobi sebuah bank l...

Followers