Minggu, 29 Desember 2024

Pusingi Pajak Niyeh, 12 Persen lagi

Beberapa hari kemarin, Sales produk rajin mengunjungi lantas menawarkan barang di lapak usaha yang saya kelola, kata mereka harga barang naik per 1 Januari 2025, jika ngorder sebelum tanggal itu masih mendapatkan harga lama. bagi saya, naiknya harga barang di awal tahun itu bukan hal yang mengejutkan, tapi setelah saya berkomunikasi dan menanyakan berapa naiknya? saya mendapatkan jawaban yang mengejutkan dari Sales itu.    

Belanja adalah kata kerja yang tak terlihat namun berdampak jika tak terkendali. mengendalikan pembelanjaan dilakukan dengan mengelola uang, naiknya pajak pertambahan nilai  (PPN) dari 11% menjadi 12% yang diputuskan Pemerintah akan berlaku beberapa hari lagi, tentu daya belanja masyarakat akan semakin lemah, masyarakat makin memikul beban yang tidak ringan, fakta-fakta ke depan akan mengungkapkan kenaikan tarif PPN 12% itu berdampak juga pada sebagian kebutuhan dasar mereka. 

Porsi belanja masyarakat ekonomi bawah bertambah, bacaan saya dalam sebuah temuan dari Penelitian CELIOS baru-baru ini, kenaikan PPN 12% ini menjadikan bertambahnya pengeluaran bulanan masyarakat ekonomi bawah sebesar 101.880 per bulan, sementara untuk pengeluaran masyarakat ekonomi menengah ke atas 354.293 per bulan, angka-angka itu hanyalah butiran detergen jika diraba oleh Pejabat dan konglomerat di negara ini. 

Ada alasan pemerintah dalam menaikkan PPN, ihwal ini diputuskan atas kajian Pemerintah dalam meningkatkan pendapatan negara, Pajak adalah tulang punggung nasional dalam mendanai program pemerintah, tarif PPN 12% ini akan dipungut kepada konsumen yang membeli barang atau jasa. pada negara berdampak positif, bagaimana dengan masyarakat? 'tak ada makan siang gratis', masyarakat harus lebih gigih bekerja keras untuk menyisihkan upah kepada pemerintah. kemudian, alasan lainnya sebagai adaptasi dengan standar pajak internasional, Pemerintah menganggap tarif PPN 12% masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara maju lainnya. berkaca pada negara maju yang jauh itu tak elok jika belum berkaca lebih dulu pada yang paling dekat yaitu masyarakat sendiri. kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta orang Indonesia, demikian simpulan dari temuan CELIOS. lagi pula, di negara maju itu, masyarakatnya mendapatkan timbal balik yang setara dari pemerintah mereka, fasilitas mewah yang didapatkan oleh masyarakatnya seperti jaminan sosial, token listrik gratis, fasilitas pendidikan dan kesehatan bahkan ketersediaannya lapangan kerja.

Pemerintah harus lebih jernih memikirkan kembali keputusannya, masyarakat juga pengen negara ini maju. namun membebani masyarakat dengan PPN 12% ini bukan solusi awal buat memajukan negara, negara ini seperti kapal yang berlayar dan di tengah laut perahu itu bocor, pemerintah sebagai nakhoda mengatasi masalah kebocoran kapal ini bukan dengan mengeluarkan debit air yang masuk ke dalam kapal, tapi menambal lubang yang menyebabkan kapal itu bocor. lubang-lubang itu adalah pemberitaan korupsi demi korupsi banyak pejabat, gaya hidup  serba mewah mereka dan segala privilege (hak istimewa sosial) yang bisa mereka gunakan kapan pun dan di manapun.

singsingkan lengan baju, songsong masa depan yang terserah

Jumat, 27 Desember 2024

Bagaimana Slank Berbahasa?

Saya pertama kali Mengenal Slank justru bukan dari musik yang mereka gubah, dulu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sketsa logo bertuliskan ‘Slank’ banyak diukir di meja sekolah, sampul dalam buku tulis dan dinding luar ruangan kantor kepala sekolah. Di situlah awalnya , kemudian mendengarnya  di MTV Ajang Musik Pribumi Dua Puluh.

41 tahun sudah Slank mengemuka di belantika musik Indonesia. Ibarat bahtera, gelombang di semua samudera di dunia ini sudah mereka hadapi. Bongkar pasang personel, sempat berhubungan dan upaya melepaskan obat-obatan terlarang, menjadi kisah kesunyian tersendiri bagi Slank. tak patah arang, Slank tetap berlayar mengarungi samudera itu buktinya bendera Slank masih berkibar di konser slank ( juga bukan konser slank), pertandingan sepakbola, bahkan di acara kampanye partai politik.  

Awalnya, Slank adalah Band festival dulu bernama Cikini Stones Complex (CSC), kumpulan anak SMA Perguruan Cikini, Jakarta. bosan membawakan lagu orang lain di festival lantas mereka memulai menulis dan membawakan lagu sendiri. Bimbim dalam sebuah wawancara dengan kompas, dikutip melalui artikel (kompas, 13 Januari 2002) "Slank pada dasarnya nggak menyukai panggung festival karena seni musik itu nggak bisa dinilai dengan angka, karena itu masalah selera”. dahulu festival menjadi ajang batu loncatan bagi band yang ingin menjadi langganan panggung, berkompetisi untuk menjadi yang terbaik agar bisa menang. idealisme dan kebosanan atas yang itu-itu saja membentuk Slank dalam mengubah pemikiran mereka dalam memaknai 'festival'. 

Tipikal Slank yang nyentrik membuat band ini tidak sulit dikenali, dalam bermusik pun demikian, lagu-lagunya seperti bercerita, apa yang mereka hadapi dan jalani, Bimbim tulis. Hampir seluruh lagu Slank ditulis oleh Bimbim, katanya Ia mendapatkan inspirasi dari koran, majalah, bergaul dan mendengar berita. Kelugasan dan kejujuran liriknya dalam musiklah yang melekat kuat di benak jutaan pendengar. Spontanitas dan tematiknya Lirik-lirik Slank sangat dekat dan berdampak pada masyarakat, atas kegelesihan-kegelisah itu Slank memilih musik sebagai media kritik kepada pemerintah.

Kebebasan yang kamu dapatkan
Bukan jadi kamu boleh sembarangan
Kamu sudah berjanji
Jangan ingkari janji
Mending jangan berjanji

Orkes sakit hati (1999) dirilis pada pasca reformasi, di tengah krisis di segala lini, lagu ini hadir dengan musik yang riang gembira seolah hendak menghibur masyarakat yang baru saja diuji dengan cobaan krismon. Ada pesan yang tersurat, Menjadi seorang pemimpin bukan berarti bebas dalam bertindak, bebas itu berbatas, norma-norma yang telah disepakati mesti ditunaikan. Masyarakat teguh menggenggam janji yang diucapkan terkait kesejahteraan mereka. Tidak mau sakit hati lagi dengan yang sudah-sudah. Lagu Gosip Jalanan, objek kritiknya sama, Pemerintah. Lirik Gosip jalanan malah lebih frontal dan berani.

Mau tahu gak Mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit
(Gosip Jalanan, 2004)
 
Tema lainnya adalah percintaan. Menjalin hubungan dengan lawan jenis dan pengalaman perjalanan cinta sangat indah mereka kisahkan di beberapa lagu yang sudah mereka buat, seperti di lagu Anyer 10 Maret, lagu ini sangat epik , ritmis dan empiris.  

hembus dinginnya angin lautan
Tak hilang ditelan bergelas-gelas arak
Yang kutenggakkan

(Anyer 10 Maret, Album Piss 1993)

kedekatan dengan obat-obatan terlarang juga mereka lekatkan di dalam lagu “Terbunuh Sepi”, dan upaya melepaskan dari pengaruh obat-obatan itu juga mereka abadikan dalam lagu “Balikin” dan “Gara-Gara Kamu”.

Slank dipilih menjadi nama band mereka karena gaya mereka yang slengean. Huruf K diakhir katanya adalah plesetan agar visualnya menarik. Logo Slank menyerupai kupu-kupu berwarna biru , kupu-kupu adalah lambang kelahiran dan transformasi, Biru merepresentasikan luasnya langit dan dalamnya samudera. kebebasan yang menjalani kehidupan yang penuh warna, Slank memang Gak ada matinya.



 


Kamis, 26 Desember 2024

Dari Deker ke Kopisop: Sebuah Diskursus Politik Anak Muda

 Wajah dan usia kita mampu bersembunyi di balik definisi ‘anak muda’, wabil khusus di kata ‘muda’. Ada kalanya di sebuah perbincangan, kita mendengar ucapan dari seseorang ‘biar umur sudah tua tapi jiwa harus tetap muda’.

Ledakan demografis menguntungkan anak muda memengaruhi iklim demokrasi. Dominasi mereka dilihat sebagai peluang sekaligus mata uang oleh partai politik. Para politikus memakai terminologi ‘Milenial’ atau ‘Gen Z’, sekaligus meminjam bahasa dan gaya mereka di suatu kampanye partai politik. Meski kadang rasa-rasanya agak menggelikan. Memang ada tujuan dibalik pemakaian bahasa dan gaya itu, dengan kata lain adalah sebuah jurus, upaya-upaya untuk menggaet  ceruk suara anak muda yang secara statistik sangat dominan jumlahnya di data daftar pemilih tetap. Sampai di sini terlihat jelas anak muda dijadikan sebagai objek politik.

Anak muda, hanyalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa, belum ada pengalaman melahap asam garam dunia politik. Asumsi remeh seperti itu tak jarang muncul di permukaan, kacamata yang tua tahu lebih banyak daripada yang muda selayak di masa feodal sudah tidak terpakai lagi. di konteks sekarang,  Anak muda melek akan teknologi, kesehariannya diisi oleh pembacaan-pembacaan informasi yang tak berbatas, keterlibatan dalam pengelolaan media, modal-modal inilah yang menjegal asumsi-asumsi usang tadi.

Media dan Anak Muda

Di tahun 80-90 an, Deker tak lebih dari sekadar penghubung dua bagian jalan yang terpisah oleh saluran air di sisi jalan, juga sebagai media bertemunya anak muda dalam mengekspansi pemikiran dan  mengaktualisasikan diri lantas diwacanakan dalam dialog yang panjang, sesekali dinyanyikan bersama-sama dengan iringan gitar di sebuah malam. Anak-anak muda di masa ini boleh dikata minim informasi,  keterbatasan itu malah dijadikan senjata dan berhasil mengubah peta politik di negara ini. Deker, satu dari beberapa media yang mengabarkan peristiwa Reformasi 98.

Kopisop bisa jadi adalah tempat selanjutnya, kenyamanan isinya tak harus diikuti dengan melembutkan pikiran kita. Saya melihat kopisop bukan hanya tempat bertemu, makan-minum, dan ruang gosip belaka. dari sini juga anak muda membuka gadget mereka, menjelajahi lorong-lorong informasi, menyebarkan buah-buah pikiran lewat tagar-tagar politisnya ke beberapa media sosial yang dia miliki. Kepemilikan akses yang luas berperan vital dalam membentuk opini dan persepsi publik, mengorganisir gerakan sosial dan partisipasi bebas aktif dalam peristiwa politik.

Ruang dan waktu berbeda, tujuan anak muda kini dan dulu mesti tak berubah.

kebutuhan anak muda kepada politik itu harus, paling tidak sebagai bahan yang bisa dijadikan perbincangan di meja warung kopi atau story-story media sosial, kendatipun ada juga yang merasa acuh di antara mereka, sementara peristiwa politik itu adalah hal yang setiap hari kita hadapi, suka tidak suka karena keputusan politik akan berdampak pada kehidupan kita di akan datang.

Selasa, 24 Desember 2024

Pesawat yang ditunggu-tunggu di Baubau

Seorang Sepuh memanjatkan doa syukuran atas mendaratnya pesawat Airbus 320 Superjet

Kesan Naik pesawat pertama kali, mungkin saya merasakan seperti apa yang dialami oleh orang biasanya. Rasa Gugup dan takut mendominasi. waktu masih mahasiswa, ada helatan Teater di pulau Jawa yang mengharuskan naik pesawat. Di antara teman-teman yang turut serta, kebanyakan belum pernah naik pesawat sehingga perasaan tadi menghinggapi mereka, agar nanti di pesawat tidak terjadi kegugupan maka salah seorang dari mereka membuat kursus kilat cara apa saja yang dilakukan bila sudah di atas pesawat, mulai dari pencarian nomor kursi, pemasangan safe belt dan apa yang dilakukan ketika jelang take off.

Pesawat Air Bus 320 dari Maskapai Super Jet air mendarat dengan mulus, disambut dengan water salute, tradisi yang biasa dilakukan pada saat penerbangan rute baru di sebuah Bandara. Rabu kemarin (23/12/2024) adalah pendaratan pertama kali dan mencatatkan sejarah baru di kota Khalifatul Khamis, Baubau.  Pendaratan ini  merupakan bagian dari Providing Flight yaitu proses uji operasional penerbangan untuk memastikan kesiapan rute penerbangan baru, bukan hanya menguji landasan pacu tetapi juga jalur udara di sekitar Bandara Betoambari Baubau.

Tanggapan masyarakat terbilang positif dengan beroperasinya pesawat berbadan besar ini, sebelumnya memang sudah ada pesawat yang melayani rute penerbangan Baubau (BUW) ke Makassar (UPG), jenis pesawatnya ATR (baling-baling), badan dan daya tampung penumpang lebih kecil dan sedikit. Sebelumnya, tarif Pesawat ATR jika ke Makassar  lumayan menguras saldo, sehingga orang yang saldonya terbatas seperti saya lebih memilih menggunakan kapal Pelni kalau ada urusan ke Makassar. Tarif pesawat berbadan besar ini kabarnya lebih murah dibanding tarif tiket pesawat sebelumnya.

Kabar baik ini juga dirasakan oleh warga Baubau yang berada di tanah rantau, saya memantau story teman-teman di Media Sosial merepost proses pendaratan pesawat Air Bus 320 ini. kegembiraan mereka tak terelakkan, tentunya tak berpikir panjang lagi jika hendak mudik, tarif sudah agak rasional dan pastinya tak khawatir lagi naik pesawat karena pesawatnya besar. Istri saya lebih senang lagi, datangnya Airbus ini adalah impiannya sedari kami memutuskan menikah, Ia belum terbiasa naik kapal Pelni kalau pulang ke kampungnya di Makassar. 

Momen bersejarah ini dianggap sebagai langkah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan akses transportasi udara. Selain pergerakan manusia, barang masuk dan keluar Baubau diharapkan lebih efisien. Arus pengiriman barang orderan online tidak lagi check point di Kendari, sehingga ongkos kirim yang selama ini diresahkan oleh masyarakat juga bisa teratasi.

sepertinya libur Januari ini, saya agendakan untuk mencoba terbang memakai armada ini.

Senin, 23 Desember 2024

Logo Partai Politik, pengalaman visual yang unik dan progresif


Suatu hari saya melewati kantor KPU Kota Baubau bersama anak saya, lantas Ia meminta saya berhenti, saya pun memarkir di sisi jalan pas depan kantor itu dan menanyakan alasan mengapa Ia mau berhenti. Rupanya Ia melihat bendera partai-partai yang berkibar di halaman kantor, Ia hendak menguji hafalannya tentang partai, dia menyebut satu demi satu nama lengkap partai itu.

Logo adalah sebuah  jenama, wajah dari sebuah institusi atau merek. Bentuknya bermacam-macam  bisa berupa teks, sketsa, simbol, atau kombinasi keseluruhannya. Sudah banyak partai di Indonesia, mulai partai pertama didirikan hingga sekarang, kalau dihitung jumlahnya sudah ratusan.

Satu hal yang mungkin memengaruhi saya untuk menilai sebuah parpol adalah menyangkut logo partai. Sekilas tampak remeh tapi perpaduan warna, tipe huruf dan garis dalam logo parpol mereka adalah sebuah pengalaman visual yang unik bagi saya. Satu dari beberapa partai yang menurut saya memiliki logo artistik adalah logo Partai Demokrasi Pembaruan.

Partai ini dibuat sebagai upaya kritik para pendirinya atas partai lama mereka, PDI Perjuangan yang mengusung metode lama otoriter, seperti memberikan hak istimewa mutlak kepada ketua partai dan hanya memiliki satu kandidat untuk posisi-posisi senior. Partai ini dibentuk oleh Sekelompok orang, saya menelusuri di Wikipedia di dalamnya ada nama Laksamana Sukardi dan Roy B.B. Janis mendirikan partai ini tahun 2005 dan terdaftar menjadi peserta pemilu pada kontestasi pemilu tahun 2009 dan mendapatkan nomor urut 16.

Saya mencoba  mengkaji makna dengan menggunakan pendekatan semiotika atas logo partai ini, Warna dasar merah adalah lambang keberanian, berani dalam mengambil risiko dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran untuk rakyat. Di sebelah kiri ada bentuk yang menyerupai ‘banteng’ dua tanduknya jelas terpampang dan sketsa abstrak yang membentuk wajah banteng, simbol banteng ini rupanya lahir tak terlepas dari simbol partai sebelumnya, PDI Perjuangan. Representasi banteng sebagai logo partai diprakarsai oleh Presiden Soekarno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia pada 1927. Banteng digambarkan sebagai Nasionalisme, Demokrasi dan Sosialisme, Soekarno menilai Banteng adalah Hewan yang berani dan sigap dalam menghadapi musuhnya, kepala banteng bahkan sempat diusulkan menjadi bagian dari bendera Nasional dalam Kongres Rakyat Indonesia tahun 1939.

Kemudian teks selanjutnya coretan abstrak yang bergerak kaku seperti tanda tangan seseorang, anggapan saya ini menunjukkan progresivitas , pergerakan dan semangat pembaruan. Diksi ‘pembaruan’ ini tertera di salah satu kata dari nama partainya.

Banteng adalah simbol Demokrasi, Sketsa Abstrak pada wajah banteng dan progresivitas garis menyimbolkan semangat Pembaruan.

Saya belum menemukan informasi tentang pencetus logo ini, sepertinya Ia adalah seorang seniman, Mungkin suatu hari saya akan membuat kaos dengan desain partai ini. di akhir tulisan ini, ada pertanyaan muncul di kepala, Mengapa Partai itu bergambarkan hewan? bukan hanya di Indonesia, di negara lain pun bisa kita temukan logo partai bergambar hewan. mungkin saya akan mengulasnya di edisi tulisan selanjutnya.


Sabtu, 21 Desember 2024

Ayam Kopaka Kotamara

Olahan ayam baru menjadi pilihan oleh masyarakat Baubau. Saya masih ingat di awal tahun 2000-an, ayam adalah makanan yang mewah dan disantap di waktu-waktu tertentu. Di sisi harga yang jauh terjangkau dan untuk melahap ayam itu hanya di hari-hari penting, hari lebaran atau haroana maludu.

Di daerah yang dikelilingi laut, ikan menjadi lauk utama. Namun, kini ikan sudah menemukan saingan di warung makan.  Masyarakat yang melihat peluang usaha saling kejar mengejar membuat kedai olahan ayam, kedai ‘ayam goreng’ pun bermunculan dan berdiri saling berdekatan. Satu dari mereka kebetulan adalah teman karib saya, nama lengkapnya Abdul Wahid yang setelah memiliki anak kerap dipanggil dengan bapaknya Ozil. Ia memulai usaha ayam gorengnya tahun 2021, lokasi kedainya boleh dibilang strategis, berada di alun-alun Kotamara. Sebenarnya saya sedikit terkejut ketika tahu Ia membuka usaha ayam goreng, karena sebelumnya ia mengabdi di Rumah sakit swasta. Profesinya sebagai perawat sudah cukup lama dia tekuni dan saya yakin sampai sekarang dia masih mencintai profesi itu.

Kedai ayam gorengnya terbilang ramai, Ia sudah punya pelanggan tetap mulai dari anak, remaja hingga oma-opa. Ia sudah hafal di luar kepala bagian ayam yang akan dipesan oleh pelanggan tetapnya. Tampaknya, Ia sudah mulai cekatan dengan bisnis barunya.

Saya menanyakan apa rahasia sehingga orang-orang datang makan di kedaimu? Ia jawab “kalau tanya rahasia, berarti saya tidak bisa memberikan jawaban karena kalau saya jawab berarti bukan lagi disebut rahasia”. Jawabannya menggelitik, mendengarnya saya langsung ketawa.

Persiapan, Ketersediaan dan Pelayanan.

Saya berupaya menyimpulkan atas sebuah tempat usaha yang ramai.

Persiapan, ini adalah upaya awal. Jika di tahap ini sudah berantakan maka berdampak atas jalannya usaha. Dalam konteks jualan ayam goreng, menyiapkan  hal-hal materil seperti bahan dan perlengkapan selanjutnya yang non-materil, pengetahuan cara marinasi yang baik, porsi seberapa banyak tepung ayam yang dipakai, dan teknik dalam menggoreng.

Ketersediaan, memastikan bahan utama dari produk jualan itu tersedia. Kalau habis maka tidak ada yang akan dijual. Stok bahan mesti aman untuk beberapa hari ke depan, siapkan lemari pembeku sebagai penunjang operasional usaha. Bahan-bahan pelengkap juga jangan diabaikan agar tetap tersedia, seperti tomat, cabe, minyak goreng, tempurung kelapa dan lainnya.

Pelayanan, rasa dan harga sajian di sebuah kedai itu terkadang menjadi pilihan ke dua dari seorang pelanggan. Meski enak dan level kepedasannya memuaskan, itu tak akan berarti apa-apa jika pelayanan tidak maksimal. Banyak kedai yang ramai dikunjungi, tak berbanding positif dengan pelayanannya. Kebanyakan orang tak akan kedua kali ke kedai setelah mendapatkan pengalaman pelayanan yang buruk, mereka meninggalkan kesan buruk itu bukan hanya di hati namun di status media sosial atau di kolom komentar Google Maps.

Waktu operasional kedai Bapaknya Ozil mulai pukul 10.00-23.00, beberapa saat setelah Ia menutup kedainya, Ia sudah memarinasi ayam buat bahan jualan besok, 3-4 hari sekali mobil distributor ayam mendatangi kedainya, Ia amat memperhatikan stok ayam di Lemari pembekunya, dan saya rasa pelayanan yang Ia berikan kepada para pelanggannya sangat memuaskan,  Ia memiliki modal sosial yang tinggi, sikap profesi awalnya sebagai perawat yang memberikan rasa nyaman, memiliki kesabaran, berperilaku santun dan bertutur sopan sudah dipraktikkan dalam pelayanannya kepada pelanggan di kedainya.  


Jumat, 20 Desember 2024

Dari Ide Karya ke Ide Usaha

 “Aku selalu suka sehabis

Hujan di bulan desember

Di bulan desember”

(Desember, Album Efek Rumah kaca, 2007)

Tak ada yang salah bila kita mengaitkan hujan dan bulan Desember, sampai-sampai kelompok musik Efek Rumah Kaca mengekalkannya dalam satu lagunya yang bertajuk “Desember”, Peristiwa hujan tidak dibiarkan begitu saja berlalu, selalu ada inspirasi saat menjelang, sedang dan setelah turunnya. Lantas, Bukan hanya ide karya yang tercipta, namun juga ide usaha.

Menggagas ide usaha bukan hanya tentang masuknya hitungan bisnis, penggelontoran modal, dan berujung meng-haroa-kan tempat usaha. satu hal juga yang menjadi landasan penting bagi pebisnis , kejelian melihat peluang bisnis dengan memanfaatkan momen.  

Pebisnis itu harus reaktif dalam melihat momen. di Agustus kemarin, jelang peringatan hari kemerdekaan, Pak RT di lingkungan saya sibuk menginformasikan dengan cara door to door untuk memasang bendera serta umbul-umbul di halaman rumah. Nah, Ide bisnis yang cocok pada momen ini tidak jauh dari atribut kemerdekaan, sebab kebutuhan bendera dan umbul-umbul bukan hanya untuk di halaman rumah tapi panitia lomba agustusan membutuhkan pernak pernik kemerdekaan itu.  

Di musim hujan, membuka lapak minuman berbahan es mungkin tak cocok. Dingin ketemu dingin. Layaknya cara kerja magnet yang saling menolak jika menemui kutub yang sama.      

Kalau begitu, Kemauan pasar di musim hujan itu apa saja?

Iya, kehangatan. Hehe

Saya yakin banyak tawaran atas tanggapan pertanyaan di atas. Pengalaman reaksi tubuh kita akan seragam, contohnya pengen makan yang berkuah sebagai bentuk penghargaan kepada cuaca. Maka tak heran jika bakso, mie ayam, pentol kuah itu lekas habis kalau musim hujan tiba.

Saya hendak membahas satu ide bisnis lainnya di musim hujan yaitu jualan jas hujan.

Musim hujan, Biasanya bukan hanya lumut yang menjamur, penjual jas hujan juga. Di Baubau, saya memperhatikan hampir tidak ada yang menjual jas hujan di sepanjang sisi jalan. Jika hujan tiba-tiba deras, banyak pengendara motor malah mengabaikan dan membiarkan pakaiannya basah menerobos derasnya hujan. Ada juga yang beberapa sengaja berteduh, tapi bukan untuk singgah mengambil jas hujan sebab memang tak ada jas hujan di dalam sadel motornya.

Keadaan ini memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang membuat penjual jas hujan tidak ditemukan titik lokasinya, pertama belum ada yang memulai membuka usaha jas hujan. Kedua, pengendara motor tidak suka memakai jas hujan.

Mental pebisnis itu berani dengan memulai, bukannya memulai dengan takut.

 

Kamis, 19 Desember 2024

Hematnya Masyarakat Pangkal Kayanya Negara

 

Istri saya mengirimkan pesan di Whatsapp, katanya : “tarif indiehome naik, padahal masih Desember, kan belum ganti tahun” pesan itu Ia kirim dengan menyematkan tangkapan layar dari aplikasi tagihan indiehome. 

Jelang akhir bulan, memang kegiatan bayar membayar adalah rutinitasnya. Bayar listrik, KPR Rumah, Air, juga gaji karyawan di tempat usaha kecil kami. Saya memastikan kepalanya pusing tujuh keliling melihat nilai tagihan-tagihan itu.

Kenaikan tarif langganan provider internet itu sesungguhnya sudah kami tahu informasinya, Pajak Pertambahan Nilai 12% telah ketuk palu dan bersamaan itu berseliweran postingan tentang barang-barang yang terkena pajak. dari postingan itu, barang kebutuhan harian tidak termasuk barang terkena pajak tapi pikirku itu cuman angin-anginan saja.

Menurut matematika saya yang lemah, ilustrasi PPN 12% itu jika diceritakan seperti beli taripa dan onde-onde di kedai kue dekat stadion Betoambari, sebelumnya 5 ribu rupiah masih dapat 5 biji, kelak dapat 3 atau 4 biji saja. Nah, itu baru mau beli kue, bagaimana kalau mau beli Jet pribadi?  

Nah, kalau sudah begini apa yang mesti kita lakukan?

Hidup hemat alias frugal living bukan satu-satunya cara untuk menanggapi PPN 12%, namun langkah itu efektif bagi kaum mendang-mending seperti saya. Pengelolaan kebutuhan didudukkan kembali, menempatkan kebutuhan primer di atas kursi kepentingan lainnya, utamanya kebutuhan tersier.

Barang-barang yang bertumpuk di keranjang Shopee perlu dipikirkan kembali untuk dicheck out. harga barang di keranjang itu barangkali receh tapi kali banyak ditambah ongkos kirim ke Baubau yang banyak dikeluhkan warganya. lalu, jajan yang berkedok wisata kuliner dikurangi intensitasnya, terkadang perut kita sudah cukup menampung makanan di rumah, cuman mata kita tidak bisa kenyang melihat godaan content creator meng-endorse  makanan dan minuman menjadi FYP di tiktok kita

Di sisi lain, gaya hidup hemat sebenarnya berdampak buruk juga pada ekonomi daerah, UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah pasti encok, uang yang beredar di pasar terseok-seok. Pada akhirnya, masyakat tidak memaknai pepatah hemat adalah pangkal untuk menjadi kaya lagi.

Rabu, 18 Desember 2024

Dua Calon Ketua, Selisih Satu Suara

Pemilihan presiden sudah usai, begitu juga Gubernur, Bupati dan Walikota. Saya berpartisipasi dalam pemilu kali ini, datang ke TPS bersama istri. Meski kami datang bersama tapi tampaknya pilihan kami berbeda. Warna kostum istri saya biru muda, warna itu selalu dikenakan dan identik dengan Capres yang bukan pilihan saya. Begitulah kami merayakan demokrasi, berbeda tapi bersama.

Terkait tentang pilih memilih, ada sedikit cerita tentang sebuah kontestasi pemilihan. Waktu itu, ada suksesi ketua umum UKM Seni UMI, calonnya ada dua, Andhy Jabulany mendapatkan Nomor urut 1, Dhany Rupawan memastikan nomor urut 2. Menurutku, Pertarungan ini sangat sengit jika dibanding persaingan Prabowo-Jokowi. Mengapa sengit? Karena selisih suara akhir sangat tipis, selisih 1 suara.

Sebelumnya, saya sebenarnya ragu dengan jagoan saya di suksesi ini bisa menang, saya melihat konstituen yang hadir didominasi kaum hawa. Jagoan saya sesungguhnya tak jelek-jelek amat di mata laki-laki, tapi lawannya lebih cakep di mata perempuan, bisa disimpulkan visi misi yang dipaparkan hanya formalitas, ujung-ujungnya kembali pada kharisma dan lingkar pertemanan.

Tibalah saatnya penghitungan suara, sorak sorai konstituen menyeruak di rumah adat Pinrang, Benteng Sombaopu. Saya duduk di belakang bersama beberapa teman sekoalisi, wajah saya sedikit tegang namun tetap tenang. Saya menengok jagoan kami di depan juga tampak gusar, keningnya mengerut jika nama lawannya disebutkan oleh PPS ketika membaca kertas suara sah.

Saya mendengar ada suara dari depan, katanya kertas suara sah yang belum dibuka tersisa satu. Wah, refleks mata saya melihat papan klasemen perolehan suara dan kedudukannya remis, artinya satu suara yang tersisa tadi adalah suara penentu. Suasana ruangan tegang bukan kepalang, seperti menyaksikan pertandingan final el classico di menit injury time.

Sayapun agak maju mendekat, memperhatikan kertas suara penentu itu sebelum dibuka. Setelah melihat secara saksama sepertinya saya menemukan kabar gembira, sayapun kembali ke belakang menuju tempat semula, niat saya ingin mengabarkan kabar gembira itu kepada teman sekoalisi tadi. Kebetulan saya duduk di samping Suhud Majid, saya membisikinya dengan sedikit senyum, “menangmi dhany”. Dia heran, lalu membalas “darimana ko tau?”

Saya bisiki dia lagi “itu kertas suara tersisa, kertas suaraku”

 

 

Senin, 16 Desember 2024

Kasoami (Soami), bekal melaut dari seorang istri di Buton

katanya, Orang Buton belum MAKAN, kalau belum makan Kasoami 

Berada jauh dari kampung halaman nun jauh di sana tentunya memunculkan seribu rasa rindu pada apa pun yang hidup di sana, mungkin keluarga, sanak saudara, juga tentu makanan khasnya. Khusus untuk yang saya sebutkan di akhir, saya akan coba mengulasnya beberapa pengalaman tentang makanan khas orang Buton khususnya orang Pulo (wakatobi), Kasoami.

Kasoami adalah makanan pokok yang dulunya merupakan pangan utama. Bahan dasar untuk membuat kasoami adalah ketela atau ubi kayu yang diparut sedemikian rupa sampai hancur berbentuk bubuk kasar lantas bubuk-bubuk kemudian itu dimasukkan ke cetakan berbahan anyaman daun kelapa yang bentuknya seperti kerucut, disebut kasoami karena sistem pengolahannya yang menggunakan sistem uap panas. dalam bahasa Pulo, panas itu bermakna Soa sehingga orang Pulo menyebut pangan olahan itu dengan nama Kasoami.

·    Ubi kayu/singkong diparut sampai habis kandungan airnya, kemudian diperas menggunakan kain berwarna putih. Hasil parutan ubi kayu itu disebut kaopi

·      Kaopi dimasukan kedalam cetakan yang dianyam dari daun Nyiur berbentuk tumpeng, cetakan itu disebut soamia.

·        Cetakan berisi kaopi dikukus ke dalam gerabah, gerabah itu disebut poluka tana.

Kasoami menjadi pangan utama karena bahan dasarnya hanya bisa tumbuh kembang di sana, apalagi di daerah Pulo yang sebagian besar daratannya adalah atol, pulau karang yang mengelilingi sebagian laguna. Mereka menyebut ubi kayu (ketela) dengan sebutan kasitela, kata ini konon berhubungan dengan bangsa yang menyebarkan tanaman ini, orang-orang Castela di Spanyol. Sekitar Abad 16, Kasitela ini disebarkan oleh para pelayar Portugis di Maluku kemudian tersebar ke seluruh wilayah Nusantara.

Orang Buton dahulu sangat lihai dalam berpetualang di laut, hamparan samudera di halaman rumah panggung mereka adalah ladang untuk tetap bertahan hidup. Waktu yang dibutuhkan ketika melaut tidak singkat, istri mereka di rumah menyiapkan kasoami sebagai bekal karena masa pemyimpanan layak konsumsinya cukup lama. Jika musim timur datang, ombak sangat besar. Di masa-masa itu para suami tidak melaut namun di meja makan kasoami tetap ada bersama ngkari-ngkari dan kagarai (ikan kering).

Kasoami ini tidak mudah basi/rusak. Penyimpanannya masih aman dimakan sampai jangka waktu kurang lebih 14 hari di suhu ruang, kalau masih berbentuk kaopi masa penyimpanannya lebih lama lagi bisa sampai sebulan.

Di medio tahun 2000-an, sewaktu masih berkuliah di Makassar, saya acapkali membawa kasoami sebagai lamboko (kiriman) untuk teman-teman yang berasal dari Pulo. Mereka bilang, mending jangan kembali kalau tidak bawa kasoami, terasa begitu istimewanya kasoami.

Bagiamana di era sekarang? Ya, memang Kasoami masih bisa ditemukan tapi tidak mudah. Jumlah produsen dan konsumen memiliki segmen tersendiri, rata-rata mereka adalah generasi Baby Boomer dan generasi X. Kasoami yang dulunya pangan utama, kini menjadi second choice atau pelengkap di meja makan, perannya digantikan oleh beras (Nasi). Nasi muncul sejak masuknya Belanda, penjajahan Belanda di Nusantara tampaknya bukan hanya menjajah daerah, tapi juga menjajah  dan menyeragamkan makanan pokok di meja makan kita.

Sesungguhnya makanan tradisional adalah hasil kerja-kerja kebudayaan, leluhur kita pandai bereaksi sekaligus berkreasi terhadap apa yang tumbuh di sekitarnya, mereka mampu mengolah pangan agar nutrisi yang masuk ke tubuh tidak seragam, mengawetkan bahan makanan agar tetap aman dikonsumsi dan kerja-kerja mereka di waktu itu menjadi pengetahuan lokal yang berharga bagi generasi mendatang,  tentu kehilangan kasoami  sama dengan memutuskan lidah kita dengan lidah leluhur.



Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

'1998'

Foto ini digambar oleh anak saya yang berusia enam setengah. cerita  sebelum gambar ini jadi, ia tampak bosan menunggu di lobi sebuah bank l...

Followers